speak out!!

setiap kejadian dalam blog ini adalah nyata. bila terdapat kesamaan tokoh, kejadian atau tempat... hm, sorry.
saya tidak memaksa anda untuk membaca blog ini. tapi jika itu pilihannya, nikmati!!

Monday, March 7, 2011

Confession #1

Beberapa bulan terakhir ini saya mulai percaya dan sedikit meyakini bahwa sesuatu dapat berubah secara cepat dalam hitungan hari, ehm..bahkan jam atau menit sekalipun.


Masalahnya bukan pada apa yang berubah tapi apakah kita siap dengan perubahan itu. Siapkah saya? Ada banyak perubahan yang saya alami awal tahun ini. Dan kadang saya bertanya sendiri, kenapa ya saya mesti berubah? Dan inilah jawabannya.


Tahukah kalian hal yang membuat saya cepat bosan dan jadi bad mood adalah menunggu. Saya sering berpikir, kenapa sih orang-orang nggak bisa bergerak lebih cepat? Kenapa saya harus menunggu mereka? Ya intinya, saya nggak suka menunggu terlalu lama. Tapi inilah yang saya lakukan selama tiga tahun. Menunggu. Menunggu dia. Tahun pertama saya menunggu, saya masih berharap dia cepat datang. Tahun kedua, saya mulai bertanya-tanya, apa lagi yang bisa saya lakukan selama menunggu? Tahun ketiga, saya mulai frustasi dan berhenti berharap. Ya, saya berhenti berharap padanya. Dan saya menyerah menunggu dirinya. Saya melepaskan semua perasaan, semua harapan, semua yang saya simpan selama ini. Ada saatnya kemarin saya merasa muak dengan semuanya. Saya ingin lepas dari semuanya. Saya melepasnya.


Ya, orang-orang bilang saya ini terlalu cepat memutuskan. Ya, dalam postingan yang ini saya bilang bahwa kita harus percaya kita bisa ngejalaninnya. Tapi nyatanya saya frustrasi, saya lelah, saya muak dengan semuanya. Saya menunggu terlalu lama. Kenapa saya nggak lebih bersabar? Karena saya memutuskan untuk berhenti. Ya, saya cupu. Saya menyerah begitu saja. Ya, itu semua benar. Saya menyerah.


Hari itu dia menulis (yang intinya) “saya nggak bisa ngasih apa yang kamu mau, kamu pergi. Kemana rasa sayang kamu?” Kemana? Saya sendiri nggak tau. Saya merasa saya ini kosong. Hampa. Ga ada keinginan, harapan atau apapun tentang itu. Ini semua ibarat balon. Karena kita nggak bisa menjaga dengan baik, udaranya lama-lama keluar dan habis. Seperti balon yang dilepaskan tanpa kita mengikat ujungnya. Balonnya terbang kemana-mana dan akhirnya kehabisan udara dan…jatuh. Itulah saya.


Saya tidak membenci dia. Saya hanya ingin semua ini berhenti sampai disini. Kami hanya tidak bisa membuat cerita bersama-sama lagi. Saya memilih untuk berjalan dengan jalan saya. Tanpa dia. Tanpa kamu. Maaf.


Saya hargai semua hal yang sudah kamu lakukan sampai detik saya menulis semuanya ini. Terima kasih untuk semua itu. Terima kasih sudah pernah menjadi yang terbaik buat saya. Maaf kalau ini semua tidak berjalan seperti yang kita harapkan pada awal. Maaf. Dan terima kasih.


Have a nice day,

Liris

Thursday, February 24, 2011

i need you

aku butuh kamu bukan untuk mengisi hati kosong ini.
hanya sekedar memberi kekuatan,
bahwa hati ini pun mampu merasa

aku butuh kamu bukan untuk merasakan rinduku.
hanya sekedar menjaga kamu
untuk berada tetap di hatiku

aku butuh kamu bukan untuk menyadari siapa yang kutunggu
hanya sekedar berharap
kamu menjawab panggilanku

ini bukan untuk di mention ke siapapun. saya hanya suka kata-katanya. inilah kata-kata yang saya kutip dari twitternya @amridwan.

have a nice day,

liris

Tuesday, February 15, 2011

welcome home, dear

welcome home, my beautiful niece :)



Alana Farayola Salsabila Saputro
14 Februari 2011
21:16 WIB

Monday, December 27, 2010

rindu

aku rindu tubuh anak kecilku.
bergerak kesana kemari.
teriakan kesenangan.
aku rindu tubuh anak kecilku :)

Wednesday, December 8, 2010

lelah

aku lelah.
lelah menjadi dewasa.

Tuesday, December 7, 2010

seperti ini saya belajar

Semester ini saya mendapatkan mata kuliah analisis eksistensial. Mata kuliah ini merupakan “cabang” dari mata kuliah filsafat. Inti dari mata kuliah ini adalah melihat diri kita atau oranglain itu sebagai manusia seutuhnya melalui media penghayatan tubuh. Kalau di mata kuliah sebelumnya saya belajar untuk men’judge’ seseorang melalui tes kepribadian, mata kuliah ini justru melarang kami untuk men’judge’ oranglain. Tapi justru menghayati tubuhnya. Mata kuliah ini adalah mata kuliah paling santai yang pernah saya ambil. Kami diberi kesempatan memilih hal-hal apa yang ingin kami bahas setiap pertemuannya. Di dukung dengan dosennya yang gokil. Hehehe.

Hari kamis kemarin, kami kuliah seperti biasanya. Kali ini si dosen, sebut saja bang iqbal (hehe), mengajak kami untuk menganalisis diri sendiri (self analysis) melalui aturan hidup yang sebelumnya telah kami buat. Ya, kami diminta untuk membuat aturan hidup atau bahasa kerennya Radial Evaluation. Dari aturan hidup yang kami buat, teman atau siapapun diharapkan dapat mengkonfrontasi aturan hidup tersebut hingga saya yang menulisnya mendapat inti dari aturan hidup yang menggambarkan siapa diri saya sebenarnya. Bingung? Ya, saya juga bingung.

Namun, sebenarnya ada hal menarik lainnya selain aturan hidup itu. Memang sudah kebiasaannya, bang iqbal selalu memulai kelas dengan berbincang-bincang. Ya ujung-ujungnya saya jadi ngerasa lagi rumpi sama beliau. Dari banyak hal ia katakan, ada satu hal yang saya ingat, “orang yang eksis itu adalah orang yang tahu batasan kapan ia akan merasa ‘hidup’ dan kapan ia akan merasa ‘mati’. Orang yang selalu merasa bosan adalah orang yang ‘vakum’, dia nggak eksis. Kalau hidup kamu, kamu isi dengan hanya menghibur dirimu sendiri, hidup kamu tuh nggak bermakna”.

Well, agak kesindir juga sih. Saya termasuk orang yang sering merasa bosan. Fyi, dari tulisan saya bang iqbal bilang saya harus merubah tulisan saya agar saya bisa lebih terkendali dan nggak anget-anget tai ayam. Berarti bener kan, saya termasuk orang yang cepat merasa bosan. Sampai saat ini saya membunuh rasa bosan itu dengan hal-hal yang (ternyata saya sadar itu) nggak bermakna. Seperti misalnya nonton variety show korea, video clip korea, ngemil dan tidur. Oleh karena itu, saya mencoba untuk memulai kembali ritual yang sudah lama tidak saya lakukan: menulis dengan tangan. Kenapa dengan tangan? Karena saya bisa menyalurkan emosi saya, rasa bosan saya. Pada awalnya sulit memang, wong disuruh nyatet kuliah aja males, ini malah mau nulis tentang emosi. Hehehe. Tapi, dengan kegigihan saya bisa membuat tulisan itu. Setidaknya menjadi satu cerita yang bisa dibaca. Setelah menulis, saya…tidur. Ternyata saya memang tukang tidur.

Hm, sekedar promosi, ngobrol sama bang iqbal itu emang seru. Kadang otak saya nggak nyampe buat nangkep omongan dia. Tapi, seru aja dengerinnya. Hehe. Btw, makasih ya buat bang iqbal yang mengizinkan namanya muncul di blog saya.

Have a nice day,

~liris