speak out!!

setiap kejadian dalam blog ini adalah nyata. bila terdapat kesamaan tokoh, kejadian atau tempat... hm, sorry.
saya tidak memaksa anda untuk membaca blog ini. tapi jika itu pilihannya, nikmati!!

Thursday, August 9, 2012

Indonesia Mengajar



Saya baru beli bukunya. Beberapa kali pergi ke toko buku, saya selalu menunda membelinya dan malah membeli buku yang lain. Dan akhirnya saya beli juga! Yeah! :D Saya ceritakan sedikit tentang buku ini ya. Buku ini menceritakan para Pengajar Muda lulusan berbagai Universitas di Indonesia yang setahun penuh pergi ke daerah terpencil untuk melakukan program mengajar. Indonesia Mengajar ini didirikan oleh Anies Baswedan yang merupakan rector di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Para Pengajar Muda ini tidak hanya mengajar tetapi juga harus membaur dalam kehidupan tempat mereka bermukim selama setahun. Sehingga buku ini tidak hanya berisi cerita tentang suka duka mengajar anak-anak di daerah terpencil tetapi juga bagaimana mereka menjalani hidup yang memiliki perbedaan budaya dengan mereka.

Awal saya tahu tentang Indonesia Mengajar saat rumpi-rumpi cantik dengan beberapa teman saya yang sudah lebih dulu jadi sarjana. Pertanyaan klise ketika tahu teman sudah jadi sarjana, “mau kerja apa? kerja dimana? Sudah lamar-lamar kerjaan?”. Beberapa jawabannya juga terkadang klise, “yah coba-coba dulu yang penting dapet kerjaan.” Tapi berbeda dengan satu teman saya yang mencoba hal lain setelah lulus. Menjadi guru. Lalu berceritalah ia tentang Indonesia Mengajar. Dari cerita yang saya tangkap, Indonesia Mengajar tidak akan jauh berbeda dengan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) kampus saya. Pergi ke desa dan mengajar. Tapi setelah saya baca bukunya, ternyata ini bukan sekedar KKNM seperti yang saya lakukan (yang jatuhnya malah jadi kayak liburan ketimbang mengabdi pada masyarakat, hehe). Dari cerita yang saya baca, dibutuhkan tekad dan komitmen yang cukup kuat untuk mengajar. Karena yang diajarnya bukanlah anak-anak biasa. yah. .mungkin sama seperti anak Indonesia lainnya. Yang membedakannya adalah kesempatan dan kondisi daerah mereka. Kebayang nggak sih kalau kita harus tinggal setahun penuh (program Indonesia Mengajar ini dilakukan 1 tahun) di daerah yang (biasanya)  terpencil, tidak ada listrik, susah akses dan susah sinyal. Bagi saya yang tinggal di daerah perkotaan rasanya sulit membayangkan bagaimana saya hidup di tempat seperti itu. Untuk pergi mengajar saja mereka harus berjalan kaki. Belum lagi jika hujan. Beberapa daerah semakin sulit diakses jika hujan datang. Oh my God! Saya jadi berpikir, sanggup nggak ya saya hidup seperti itu?

Mungkin itu juga yang sempat terbersit di pikiran para Pengajar Muda. Tapi nyatanya mereka mampu. Mereka bisa menaklukan itu semua. Malah kondisi itu sepertinya dikesampingkan, mengingat apa tujuan mereka disana. Dan pada Pengajar Muda itu bercerita tentang kegiatan mengajar mereka disana. Suka dukanya mengajar anak-anak pedalaman. Bagaimana mereka berusaha untuk membangun motivasi belajar anak-anak tersebut. Mengajarkan mereka untuk punya cita-cita dan berani untuk mencapainya. Dan dari cerita-cerita mereka saya pun terhenyak. “seperti ini ya potret pendidikan Indonesia sesungguhnya?” Disaat banyak sekolah punya predikat “standar Nasional” atau “standar Internasional” sekalipun, ternyata masih banyak sekolah yang punya 3 ruang kelas saja sudah syukur. Tapi saya suka dengan optimism eyang dituliskan oleh Rahmat Danu Andika pada buku tersebut dalam judul “Hardiknas (Pendidikan vs Keterpencilan)” . Rahmat berusaha untuk optimis bahwa walaupun terlalu kompleks untuk mengatasi permasalahan ini (dari sistemnya sampai birokrasinya) tapi (masih) banyak pula yang berjuang untuk menuntaskan permasalah pendidikan. Dan ia bilang, kita tidak bisa hanya menutup mata dan melimpahkan semuanya pada pemerintah. Tahu sendiri ya pemerintah kita seperti apa? *skeptis* Seperti yang dikatakan pula oleh Anies Baswedan, pediri Indonesia Mengajar, “mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik”. Dan kita masih mau tetap menutup mata?

“Mereka mendapat kehormatan untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa” –Anies Baswedan

Regrads,

Liris Kinasih

1 comment:

Rara said...

aaahhhh aku belum sempet aja nih beli buku ini ><