speak out!!
Sunday, September 11, 2011
what a LIFE
kadang saya lupa bagaimana rasanya punya banyak kegiatan.
hidup saya bergerak dari satu titik ke titik lainnya.
begitu terus.
setiap hari.
kadang saya bertanya untuk apa?
untuk hidup?
untuk kamu?
atau untuk saya sendiri?
kadang saya ingin berhenti.
ingin duduk manis.
tapi, ini bukan hidup.
karena hidup itu harus bergerak.
bergerak (bebas).
have a nice weekend,
~liris kinasih
Friday, September 2, 2011
angka kembar
hari ini saya dapat angka kembar. senang? biasa saja. semakin lama semakin saya merasa "biasa saja" menghadapi hari ini. tapi hal ini tidak menyurutkan diri saya untuk bersyukur dan berterima kasih atas kehidupan yang saat ini saya jalani. kembali memanjatkan doa, "semoga saya bisa menikmati hidup dengan penuh sukacita".
terima kasih untuk orang-orang terbaik dalam hidup saya yang tidak pernah berhenti mengajari arti hidup yang sebenarnya. masih banyak yang ingin saya cari jawabannya. semoga masih ada waktu.
saengil chukka hamnida :D
with love,
~liris
Monday, August 15, 2011
skeptis
skeptis skep.tis
[a] kurang percaya; ragu-ragu (thd keberhasilan ajaran dsb): penderitaan dan pengalaman menjadikan orang bersifat sinis
see, mungkin dia bener. saya ini cenderung skeptis. dan beberapa waktu lalu saya mengkonfirmasi apa alasan dia bilang begitu. dan tahu jawabannya? "he? emang saya pernah bilang gitu? kayaknya cuma asal aja deh." DANK!! saya sampe bela-belain cari arti kata skeptis di kamus dan dia bilang itu omongan asal doang. huks. ya udah nggak apa-apa deh. seenggaknya saya jadi tahu apa arti skeptis yang sebenernya. :D
have a nice day,
Liris Kinasih
Sunday, July 10, 2011
gak akan lari kemana
dan malamnya teman saya, Icha, menanyakan bagaimana proses interview yang sudah saya jalani. saya katakan sejujurnya kalau saya cuma bisa pasrah aja. dan dengan sangat wise-nya Icha bilang, "ris,rejeki itu udah ada yang ngatur.gak mungkin ketuker.kalo udah usaha,ya tgl doanya." wuiihh..kata-kata itu ngasih efek yang cukup besar buat saya. saya siap menerima keputusannya. kalau emang saya nggak keterima, ya mungkin memang bukan rejeki saya. mungkin rejeki saya ada di tempat lain. jadi ya bener-bener pasrah deh. tapi ternyata dua hari kemudian, saya ditelpon oleh pihak biro dan saya diberitahu bahwa saya lolos tahap 1 dan saya harus mengikuti tahap selanjutnya. ngasih tes (semacam psikotes) ke anak usia SD. DANK!!! jujur aja, saya ini agak-agak bolor kalau disuruh ngetes. jangankan anak kecil, temen sendiri aja suka bolor.
dan..lagi-lagi saya cuma bisa pasrah. cuma melakukan segalanya dengan baik. dari feedbacknya saya tahu,ada banyak kesalahan yang saya lakukan. banyak hal yang terlewat. yah..udahlah. lagi-lagi saya inget kata-kata icha, kalau ini rejeki saya ya harus diterima. kalau bukan, ya ikhlasin aja.
dua hari kemudian, saya kembali mendapat telpon dari biro. dan...saya diterima sebagai tester klinik anak. rasanya? senang. tapi mudah-mudahan nggak berlebihan. justru saya lebih banyak deg-degannya. tugasnya itu lhoo..wew. hahhaa. yah..semoga saya bisa mengemban tugas ini dengan baik ya. tolong dibantu-bantu doa ya. *prok prok prok*
jadi,terima kasih buat Icha atas kata-katanya yang menyenangkan. apa yang memang sudah ditakdirkan untuk kita, nggak akan lari kemana kok. hehe. :)
Monday, June 27, 2011
kala
"mungkin terlalu picik kalau aku berpikir hanya aku yang paling sakit
tapi ada kalanya aku merasa nggak sanggup menghadapi segalanya
ada kalanya aku menutupi segalanya dengan tawa, senyum
sampai akhirnya, semuanya menjadi tangis menjadi amarah"
have a nice day,
Liris Kinasih
Monday, June 6, 2011
Siapa yang salah? Sistem atau siapa atau apa?
Malam itu pukul 9 ketika mama saya berada di luar rumah dan terlihat ada seorang gadis kecil berlari sambil menangis. Ibu si gadis kecil itu berteriak ke arah mama saya dan meminta tolong untuk menghentikan gadis itu. Setelah suasana sudah cukup tenang, mama saya bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata gadis kecil, ibu serta adiknya yang masih balita datang ke pamulang (daerah rumah saya) untuk mencari bapak si gadis yang menjadi kuli bangunan. Mereka mencari si bapak untuk meminta uang bayaran sekolah. Karena si gadis diancam pihak sekolah untuk segera membayar uang sekolah atau tidak bisa mengikuti ujian di sekolah. Ketika ibunya bercerita, si gadis masih saja menangis. Ternyata mereka belum menemukan si bapak. Mama saya bertanya dimana rumah mereka. Si ibu menjawab “cileungsi”. Well, itu jauh banget dari pamulang. Dan itu udah malem banget. Masa iya sih mereka masih mau cari si bapak. Akhirnya mama saya secara sukarela memberikan sedikit uang untuk si anak. Mama saya bilang, “udah, ini ibu kasih uang ya. Lumayan buat bayar sekolah. Sekarang kamu pulang ya. Ini udah malem. Kasian adek kamu. Ya? Udah jangan nangis lagi. Ini uangnya buat bayar sekolah aja dulu. Kamu pasti boleh ikut ujian kok. Ya? Ini uangnya dikasih. Jadi nggak usah dipikirin dikembaliinnya gimana. Ya?” Si gadis pun menerima pemberian mama saya. Nggak berapa lam kemudian mereka pulang. Saya yang nggak berada di tkp aja kalau inget cerita ini miris banget. Miris.
Ada banyak orangtua yang pengen anaknya pinter. Jadi “orang” dan bisa menaikan kondisi keluarga mereka. Tapi kadang mereka terbentur oleh masalah biaya. Biaya sekolah di Indonesia itu luar biasa mahal lho. Bahkan sekarang, sekolah negeri aja mahalnya hampir sama kayak sekolah swasta. Kalau saya nggak salah inget, sampai sekarang program wajib belajar 9 tahun itu masih ada. Tapi gimana mau sekolah 9 tahun kalau buat bayar spp aja mereka nggak bisa. Nggak bayar spp = nggak boleh ujian, ujung-ujungnya anak nggak boleh sekolah. Satu anak bangsa mimpinya dihancurkan.Kan ada program sekolah gratis, ris. Iya yang gratis itu biaya sppnya. Biaya buku, seragam, uang gedung sekolah, dll mereka harus bayar kan. Butuh uang juga, kan. Terus, nasib anak-anak yang miskin gimana? buat makan aja mereka susah. Lagi-lagi satu anak bangsa mimpinya dihancurkan.
Ada program beasiswa, ris. Setau saya, kebanyakan beasiswa itu untuk anak-anak yang pintar bukan untuk anak-anak yang emang mau sekolah. Lha, gimana mereka mau pintar kalau mereka nggak dikasih kesempatan untuk belajar. Pulang sekolah mereka harus bantu orangtua cari uang buat makan. Kapan mereka belajarnya? Gimana mereka mau pintar? Gimana mereka mau dapet beasiswa?
Yah..mungkin saya aja yang terlalu mengkritik tapi nggak berbuat apa-apa. omong doang. Tapi ini buat saya berpikir, apa sebenarnya yang harus diperbaiki agar anak-anak punya kesempatan yang sama untuk pintar. Untuk bisa bermimpi dan mencapainya? Sistemnya kah? Atau siapa? Apa?
Yah..semoga suatu hari nanti saya bisa bantu mereka. Nggak Cuma omong aja. Daann..untuk para dewan disana, terima kasih lho udah banyak berpikir. Berpikir tentang gedung baru, jabatan, skandal ini itu. Masih banyak lho anak bangsa yang belom pinter. Ya..boro-boro bisa pinter, bisa makan juga susah. Makasih lho pak, bu..
Have a nice day,
~liris kinasih