speak out!!

setiap kejadian dalam blog ini adalah nyata. bila terdapat kesamaan tokoh, kejadian atau tempat... hm, sorry.
saya tidak memaksa anda untuk membaca blog ini. tapi jika itu pilihannya, nikmati!!

Friday, September 14, 2012

Menunda mimpi


Semua orang pernah punya mimpi. Suka atau tidak suka, manusia setidaknya pernah bermimpi. Untuk sebagian orang, mereka dapat dengan mudah mewujudkan mimpi mereka. Kebanyakan orang, harus bekerja sangat keras untuk mewujudkannya. Tapi ada pula yang diam-diam menguburnya. Menurut saya, semuanya tidak ada yang salah. Semua orang berhak untuk mengatur hidupnya sendiri. Saya sendiri lebih memilih menunda mimpi saya. Kenapa menunda? Karena, someday, saya mau berusaha untuk mewujudkannya kembali.
==
Saya suka menulis. Ralat, saya sangat suka menulis. Saya sudah mulai menulis sejak SD. Awalnya hanya menulis diary (yes, i did). Lalu saya mencoba untuk menulis cerita. Cerita sehari-hari. Apa yang saya alami bersama teman-teman saya. Semakin saya besar (karena kata “dewasa” rasanya belum tepat), saya mulai paham bahwa menulis adalah passion saya. Saya tidak lagi hanya menulis cerita tetapi juga hal lainnya. Saya menulis tentang apa pun yang saya pikirkan dan apa pun yang saya rasakan. Terhadap apa pun. Dan saya senang hampir semua kerabat mengapresiasi tulisan saya. Yah...kadang saya juga dikritik. But it’s okay. Berarti mereka memang benar-benar membaca tulisan saya kan? Menulis sudah menjadi semacam cara untuk menyeimbangkan hidup saya. Seperti kebanyakan orang yang suka menulis, saya bermimpi bisa menulis sebuah novel atau cerita anak-anak. Ya, saya bermimpi. Saya percaya saya bisa mewujudkannya. Dan saya berusaha untuk mewujudkannya. Hal yang sedang saya persiapkan adalah membuat cerita anak-anak “putri dan 5 prajurit” yang ide awalnya saya ambil dari sini. Saya sudah membuat draftnya. Tapi saat ini *hela napas panjang* saya memilih untuk menundanya.Dan seperti kebanyakan orang yang suka menulis, saya memiliki satu inspirasi besar. Hampir selalu hadir dalam tulisan atau cerita yang saya buat. Dia pernah bilang, “biarkan otak lo berpikir liar, ris”.
==
Saya mengenal dia sudah cukup lama. Hm...sekitar *ngitung pake jari* 8 tahun. Sejak dulu saya mengenalnya sebagaik orang yang cerdas. Tanya apa saja pasti dia bisa jawab. Dia sudah seperti RPUL. Hehe. Semakin lama saya mengenal dirinya, saya semakin mengetahui seperti apa dirinya. Dia tidak hanya cerdas tetapi juga idealis. Walaupun terkadang saya bisa merasakan bahwa dibalik keidealisannya, sebenarnya dia merasa getir, khawatir, cemas ataupun takut. Saya sangat suka melihat dunia dari sudut pandangnya. Dunia tidak akan pernah sama lagi (seperti apa yang selalu pikirkan) jika melihat dari kacamatanya. Dia bukan lagi sekedar RPUL tapi justru menjadi google buat saya. Intinya saya sangat nyaman berteman dengannya. Tapi ada hal yang sangat saya hindari yaitu bercermin tentang perasaan saya walaupun saya juga sadar hal itu akan terjadi. Someday. Apa benar saya hanya sekedar nyaman berteman dengannya? Dan ternyata someday itu terjadi tidak lama sebelum ini. Awalnya saya enggan mengakuinya. Tapi setelah bolak-balik bercermin saya sadar bahwa saya jatuh hati padanya. Tadinya saya pikir ini seperti cerita-cerita romantis menye-menye (don’t ask me about the meaning of menye-menye) gitu. Tapi setelah saya cermati lebih dalam justru ini seperti cerita horror thriller gitu. Dan saya tokoh utamanya. Karena saya bukan saja sekedar jatuh hati tetapi saya juga ingin ‘mengambil’ apa yang dia punya. Kecerdasannya dan idealismenya. Saya tidak sekedar menjadikannya tokoh dalam hampir semua cerita saya tetapi juga menjadikannya bayang-bayang dalam hidup saya. Sebagian tulisan di blog ini adalah tentang dirinya, mimpinya, dunia yang ia pandang, apa yang saya rasakan padanya, kata-kata yang ingin saya ucapkan...intinya semua ada dianya. Semua itu adalah realitas yang saya impikan. See? This is not romantic. This is tragic. Seseorang bilang seharusnya saya perjuangkan itu. Tapi saya tahu dia seperti apa, apa yang dia ingikan. Dan itu bukan saya. Bukan seperti saya. Dan saya tidak mau menjadikan 8 tahun itu sebagai taruhannya.
==
Dan saya memilih jeda. Menetralisir kembali. Seperti orang yang sakit, saya butuh bernapas lebih teratur, tidur, minum air putih yang banyak, atau bahkan diinfus. Untuk itu saya menunda sementara waktu pengerjaan cerita anak-anak (yang lagi-lagi emang ada dianya). Saya sih inginnya berhenti sama sekali untuk menulis. Tapi sepertinya itu sama saja dengan bunuh diri. Saya akan tetap menulis. Pelan-pelan. Mungkin ini saatnya saya lebih mengkhawatirkan kondisi saya sendiri.
Saya harap kalian memaklumi. Terima kasih untuk segala bentuk dukungan, doa dan harapan dari kalian semua.

“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkan ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?” (Dewi Lestari dalam Filosofi Kopi)

Sampai jumpa (lagi),

Liris Kinasih

3 comments:

ish jenie said...

pas cerita anak-anak (dan novel lainnya) jadi, bagi2 ya, ris :) buat anakku ntar, hihihihi :D

Rara said...

Menulis sudah menjadi semacam cara untuk menyeimbangkan hidup saya.<--- iyy sama banget Lis!!! Jeda sebentar itu memang terkadang perlu, tapi nanti jangan lupa lanjutin tulisannya yah :)

nobinobinobi said...

yuk liburan biar bisa move on! :D
eh tapi skripsi kelarin dulu hehehe